Jakarta, CNBC Indonesia – China bakal merekrut banyak pekerja teknologi asing, dengan memberikan insentif gede-gedean. Menurut laporan Reuters, fasilitas yang diberikan termasuk subsidi pembelian rumah dan bonus penandatanganan sebesar 3 hingga 5 juta yuan (Rp 6,2-10,4 miliar).
Inisiatif ini sebenarnya pernah dilakukan selama satu dekade hingga 2018 lalu. Pemerintahan Xi Jinping merekrut talenta dari luar negeri dengan kualitas dan standar kelas kakap. Kala itu, program perekrutan ini dinamai Rencana Seribu Talenta (TTP).
Program ini merupakan salah satu upaya China untuk mendominasi sektor teknologi dunia. Hal ini menjadi ancaman bagi Amerika Serikat (AS) yang ingin mempertahankan dominasi teknologinya. Pemerintahan Joe Biden dikatakan tak senang dengan inisiatif tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejak 2018, TTP disetop di tengah maraknya penyelidikan AS ke para talenta digital. Kini, pemerintahan Xi Jinping diam-diam menghidupkan kembali inisiatif tersebut dengan nama dan format baru. Misinya untuk mempercepat perkembangan teknologi di Negeri Tirai Bambu.
Menurut laporan, pengganti program TTP dinamai ‘Qiming’ dan diawasi oleh Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China.
‘Bom’ Baru Xi Jinping ke Joe Biden
Perlombaan untuk menarik talenta teknologi terjadi ketika Presiden Xi Jinping menekankan perlunya kemandirian nasional dalam mengembangkan industri semikonduktor lokal. Hal ini menyusul pembatasan ekspor komponen chip ke China yang ditetapkan Presiden AS Joe Biden.
Peraturan yang diadopsi oleh Departemen Perdagangan AS pada bulan Oktober antara lain membatasi warga negara dan penduduk tetap AS untuk mendukung pengembangan dan produksi chip canggih di Negara Tirai Bambu tersebut.
Kantor Informasi Dewan Negara Tiongkok dan kementerian tidak menanggapi pertanyaan tentang Qiming.
Tiongkok sebelumnya mengatakan perekrutan mereka di luar negeri melalui TTP bertujuan untuk membangun ekonomi yang didorong oleh inovasi dan mempromosikan mobilitas talenta, sambil menghormati hak kekayaan intelektual, menurut kantor berita pemerintah Xinhua.
Qiming, atau yang diartikan sebagai ‘Pencerahan’, merekrut dari bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang mencakup bidang sensitif atau rahasia.
Berbeda dengan pendahulunya, lembaga ini tidak mempublikasikan penerima beasiswa dan tidak muncul di situs web pemerintah pusat, yang menurut sumber mencerminkan sensitivitas lembaga tersebut.
Beberapa dokumen menyebutkan Qiming bersama dengan Huoju, atau Torch, sebuah inisiatif lama Kementerian Sains dan Teknologi yang berfokus pada pembentukan kelompok perusahaan teknologi. Kementerian tidak menanggapi permintaan komentar.
Qiming juga beroperasi bersamaan dengan inisiatif perekrutan yang dijalankan oleh otoritas lokal dan provinsi serta upaya perekrutan yang didukung pemerintah oleh perusahaan chip Tiongkok.
AS telah lama menuduh Tiongkok mencuri kekayaan intelektual dan teknologi, tuduhan yang dibantah oleh Beijing karena bermotif politik.
“Musuh asing dan pesaing strategis memahami bahwa memperoleh talenta-talenta terbaik AS dan Barat seringkali sama baiknya dengan memperoleh teknologi itu sendiri,” kata Dean Boyd, juru bicara Pusat Kontra Intelijen dan Keamanan Nasional pemerintah AS, ketika ditanya tentang skema perekrutan talenta Tiongkok.
“Ketika perekrutan tersebut menimbulkan konflik kepentingan atau komitmen yang melekat, hal itu dapat menimbulkan risiko terhadap ekonomi dan keamanan nasional AS.”
[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya
China Blokir Chip AS, Biden Siap Lempar ‘Bom’ ke Xi Jinping
(fab/fab)