Cerita Kegagalan India Tekan Polusi Pakai Semprot Uap Air


Jakarta, CNN Indonesia —

Guru Besar Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) Puji Lestari mengungkapkan metode water mist atau penyemprotan uap air untuk menekan polusi udara sudah pernah gagal atau tak efektif dilakukan di beberapa negara.

“Seperti di india, dia enggak berhasil dengan baik. Kemudian juga ada Hongkong yang dianggap berhasil, tapi juga ada orang yang menganggap itu membuang-buang air berlebihan,” kata dia, dalam siaran CNN Indonesia TV yang tayang Selasa (29/8).

“Karena berapa banyak air yang digunakan. Jadi memang ada beberapa yang berhasil, ada yang tidak. Tergantung dari intensitas polutan, teknologi yang digunakan,” lanjut dia.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO RESUME CONTENT

Lalu, bagaimana sebetulnya penggunaan penyemprotan air ke udara dalam menangani polusi India?

Saat polusi udara menyergap pada 2020, berbagai instansi pemerintahan di India menyemprotkan ratusan ribu liter air di seluruh ibu kota.

Namun, para pakar menyebut cara ini bukan hanya buang-buang air, tapi juga bisa berdampak buruk terhadap kualitas udara jika penyemprotan tidak dilakukan pada tekanan tinggi.

Pada 2019, profesor IIT-Delhi Mukesh Khare menulis surat kepada tiga pemerintah kota yang menyatakan bahwa tidak ada satupun dari mereka yang menyemprotkan air dengan tekanan yang cukup tinggi untuk mengurangi polusi udara setempat.

Ia menyebut semprotan “kabut” yang halus diperlukan untuk mencapai hal tersebut.

Meskipun senjata antismog mungkin lebih efisien dalam mencapai tujuan tersebut, para ahli mengatakan menargetkan area dengan tingkat debu yang tinggi merupakan cara yang lebih efisien untuk mengurangi polusi dan menghemat air.

Khare, dalam suratnya, menyatakan mereka membutuhkan penguatan dan perubahan jenis nozzle untuk meningkatkan tekanan air. India kemudian mengerahkan lebih dari 250 alat penyiram air, 45 di bagian timur, 83 di bagian selatan, dan 130 di bagian utara, mengutip The Times of India.

Tidak mengatasi sumber masalah

Anti-smog gun yang jadi senjata India memerangi polusi udara saat itu dapat menyemburkan air untuk membersihkan polutan dari udara. Namun, para ahli mengatakan cara ini tidak mengatasi sumber masalah dan perubahan infrastruktur adalah hal yang benar-benar dibutuhkan.

New Delhi merupakan salah satu wilayah yang paling tercemar di dunia. Partikel-partikel udara dan bahan kimia membentuk kabut asap beracun yang menyelimuti kota yang dihuni oleh 19 juta orang ini.

Telah dilaporkan bahwa menghirup udara ketika kabut asap dalam kondisi terburuknya kira-kira setara dengan menghisap 50 batang rokok sehari.

Di bagian timur New Delhi, Anand Vihar adalah sebuah area yang berbatasan dengan zona industri dan sering kali memiliki kualitas udara terburuk.

Menurut Kedutaan Besar AS, tingkat partikel halus yang dikenal sebagai PM2.5 tercatat 380 di Anand Vihar, yang mana lebih dari 15 kali lipat dari tingkat yang dianggap “aman” oleh Organisasi Kesehatan Dunia.

Mesin ini dihubungkan ke tangki air dan dipasang ke sebuah truk, menembakkan air yang dikabutkan hingga 230 kaki di udara. Tujuannya adalah untuk meniru efek pembersihan udara dari hujan dan membawa partikel debu ke tanah.

Anumita Roy Chowdhury, Direktur Eksekutif Centre for Science and Environment (CSE) dan para ahli lainnya telah menunjukkan bahwa meriam kabut air tidak memberikan solusi jangka panjang.

“Ini bisa menjadi langkah instan untuk efek lokal, terutama jika ada penghasil debu kotor lokal. Namun, tindakan yang lebih berkelanjutan dan berjangka panjang diperlukan untuk membawa perubahan sistemik,” kata Chowdury, mengutip Earth.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *