Bukan Kendaraan, Studi Ungkap Sumber Polusi Udara Sesungguhnya


Jakarta, CNN Indonesia —

Pemerintah mengklaim salah satu sumber utama polusi udara di Jakarta adalah emisi gas buang dari transportasi. Namun, studi lembaga nirlaba menunjukkan hal sebaliknya merujuk pada pengalaman masa pandemi.

Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut kendaraan bermotor menjadi sumber utama pencemaran polusi udara di daerah ibukota DKI jakarta dan sekitarnya dengan kontribusi 44 persen.

Kajian terbaru dari Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) mengungkapkan transportasi memang jadi salah satu sumber polusi. Kendati begitu, CREA menyebut pemerintah “terlalu melebih-lebihkan peran transportasi” dalam penyebaran polusi.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO RESUME CONTENT

Mereka membuktikannya dengan membandingkan data tingkat polusi udara pada masa pandemi dengan sebagian besar pekerja di ibu kota menjalani kerja dari rumah (WFH).

WFH sendiri mulai diberlakukan di Jakarta pada 12 Maret 2020. Pada 30 Maret 2020, pemerintah mengumumkan darurat kesehatan nasional.

Saat itu pemerintah daerah dapat menerapkan pembatasan sosial yang lebih ketat, seperti menutup sekolah, tempat kerja, dan membatasi pertemuan keagamaan di tempat ibadah.

CREA mengungkap, berdasarkan data Google Mobility Report, perjalanan kerja pada 2020 hingga 2022, yang merupakan periode utama pandemi Covid-19, meningkat sebesar 23 persen.

Selain itu, perjalanan ke mal dan lokasi perbelanjaan dan rekreasi lainnya meningkat sebesar 32 persen, dan perjalanan ke taman naik dua kali lipat. Di saat yang sama, tingkat PM2.5 menurun.

“Namun, rata-rata tingkat PM2.5 turun masing-masing sebesar 14 persen dan 20 persen di Jakarta Selatan dan Pusat,” tukas CREA, dikutip Rabu (30/8).

PM2.5 merupakan jenis polutan dengan diameter di bawah 2,5 mikron. Sumbernya dari asap kendaraan bermotor, pabrik, dan hasil pembakaran lainnya.

Menurut analisis CREA, dengan tujuan mengidentifikasi perubahan kualitas udara selama masa karantina pandemi Covid-19 di Asia Tenggara, WFH membuat tingkat polutan Nitrogen Oksida (NO2) di Jakarta mengalami penurunan sekitar 40 persen dibandingkan pada 2019.

Namun, studi yang sama menunjukkan tingkat PM2.5 tetap konsisten dengan tahun-tahun sebelumnya.

CREA menyebut ini “menunjukkan bahwa masalah polusi udara di kota ini sangat dipengaruhi oleh polutan dari daerah sekitar.”

Pengamatan lebih dekat terhadap lintasan massa udara yang tiba di Jakarta ketika tingkat PM2.5 mencapai puncaknya di stasiun pemantauan kualitas udara Kedutaan Besar AS di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan.

Hasilnya, kata lembaga tersebut, “menunjukkan bahwa sebagian besar polusi selama periode tersebut dibawa dari pembangkit listrik tenaga batu bara ke Jakarta.”

Dengan sederet fakta pada periode pandemi ini, lembaga tersebut menyimpulkan WFH bukan jawaban buat penanganan polusi. 

“Pengurangan jumlah kendaraan terhadap lalu lintas selama Covid-19 dan WFH secara intuitif diyakini akan menurunkan polusi udara di Jakarta; tetapi, data menunjukkan bahwa kebijakan WFH tidak banyak membantu mengurangi tingkat PM2.5,” kata CREA.

Lalu apa sumber utama polusi DKI?

Berdasarkan data terbaru, CREA menyebutkan pencemaran udara di Jakarta tidak hanya disebabkan oleh emisi PM2.5, tapi juga emisi polutan lain yang diubah menjadi partikel PM2.5 di udara, seperti emisi SO2 dan NOx.

Sektor ketenagalistrikan merupakan sumber emisi SO2 yang dominan (93 persen), sedangkan transportasi merupakan sumber emisi NOx terbesar (56 persen), disusul oleh sektor ketenagalistrikan dan industri.

Pembakaran biomassa dan limbah merupakan sumber emisi PM terbesar, diikuti oleh transportasi. Biomassa digabungkan dengan sektor pertanian, komersial, dan perumahan, dan bersama dengan pembakaran limbah, menghasilkan 47 persen emisi PM.

Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLHK Sigit Reliantoro sebelumnya mengatakan penyebab kualitas udara buruk di Jakarta lebih banyak karena faktor lokal. Salah satunya karena masifnya penggunaan transportasi pribadi seperti motor.

Dalam data yang dipaparkannya, penyumbang emisi terbanyak yakni 44 persen dari transportasi. Kemudian, Sektor industri energi 25,17 persen, manufaktur industri 10 persen, perumahan 14 persen, dan komersial 1 persen.

Sementara itu, kata Sigit, data tahun 2018-2022 menunjukkan ada 24,5 juta kendaraan bermotor teregistrasi di DKI. Sebanyak 78 persennya sepeda motor. Pertumbuhannya per tahun dari 2018 sampai 2022 5,7 persen.

“Jadi sebetulnya ini mengonfirmasi sebetulnya ini [polusi di Jakarta] sifatnya lokal, tidak ada yang dari Suralaya ke Jakarta,” kata Sigit.

[Gambas:Video CNN]

(tim/dmi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *