Kenalin Gemini, Pengganti Google Search Canggih Pakai AI

Jakarta, CNBC Indonesia – Google resmi merilis model kecerdasan buatan (AI) bernama Gemini. Adapun, AI yang tersedia untuk pengguna Google Cloud ini bisa menganalisis grafik hingga menulis kode pemrograman komputer.

Gemini digadang-gadang mempunyai kinerja dan kemampuan lebih baik dari GPT-3.5, model AI yang mendasari layanan ChatGPT milik OpenAI. Model ini dirilis dalam tiga kategori yang Gemini Ultra, Gemini Pro, dan Gemini Nano.

Gemini Ultra adalah model dengan kapasitas terbesar, Gemini Pro adalah model yang bisa dikembangkan untuk tugas tertentu, sementara Gemini Nano digunakan untuk hal spesifik bisa berjalan di perangkat mobile seperti HP.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO RESUME CONTENT

Gemini untuk saat ini bisa digunakan oleh perusahaan pengguna Google Cloud di aplikasi masing-masing. Mulai 13 Desember, pengembang software dan pelanggan perusahaan bisa mengakses Gemini Pro menggunakan API di Google AI Studio atay Google Cloud Vertex AI. Pengembang Android juga sudah bisa mulai mengembangkan aplikasi dengan Gemini Nano.

Gemini juga akan menjadi mesin di balik layanan Google, seperti chatbot Bard dan Search Generative Experience, yaitu model pencarian Google yang menjawab pertanyaan dalam bentuk percakapan.

Search Generative Experience disebut bakal menggantikan peran Google Search yang memberikan jawaban hasil pencarian internet dalam bentuk daftar laman di internet. Produk ini saat ini masih dalam tahap perkembangan.

Berdasarkan laporan CNBC International, Gemini bisa digunakan oleh perusahaan untuk menyediakan layanan pelanggan canggih lewat chatbot. Kegunaan lainnya adalah memberikan rekomendasi produk ke pelanggan serta mengidentifikasi tren untuk merancang kampanye promosi.

Gemini juga bisa digunakan untuk membuat konten pemasaran hingga blog atau sebagai pendukung produktivitas karena bisa merangkum hasil rapat dan menulis kode pemrograman komputer.

Google, dalam acara peluncuran Gemini, memamerkan kemampuan Gemini untuk mengambil tangkapan layar dari sebuah grafik, kemudian memperbaiki grafik tersebut setelah melakukan analisis atas laporan setebal ratusan halaman. Gemini juga dipamerkan bisa memfoto lembar PR matematika, kemudian mengidentifikasi jawaban yang benar dan salah.

Gemini Ultra diklaim sebagai model AI pertama yang bisa mengalahkan manusia dalam MMLU (pemahaman bahasa dalam berbagai tugas dalam jumlah besar). Dalam uji MMLU, Gemini Ultra diberikan tugas untuk memahami 57 bidang ilmu pengetahuan termasuk matematika, fisika, sejarah, hukum, hingga kedokteran. Menurut Google, Gemini Ultra mampu memahami nuansa dalam subjek yang rumit.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


6 Fitur Baru Google Bard Lengkap dengan Cara Pakainya, Simak!

(Verda Nano/hsy)

India Buktikan AI Bisa Deteksi Bencana, Bagaimana RI?

Jakarta, CNN Indonesia —

Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika (Wamenkominfo) Nezar Patria mengatakan bahwa data dan kecerdasan buatan (AI) saat ini bisa dimanfaatkan untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya bencana serta menyelamatkan nyawa masyarakat.

“Contohnya di India, pemerintah mereka membuat aplikasi untuk mendeteksi banjir dan menggunakan kecerdasan buatan, lalu diolah semua datanya dan bisa buat prediksi satu minggu sebelum banjir datang sehingga penduduk di daerah itu bisa diungsikan terlebih dulu,” kata Nezar, Kamis (7/12), mengutip Antara.

Contoh penggunaan AI untuk deteksi bencana yang Nezar sampaikan sempat dilakukan salah satu negara bagian di India, Bihar. Mereka menggunakan AI dan sistem peringatan dini untuk mengambil langkah-langkah pencegahan banjir pada tahun 2020.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Teknologi ini telah membantu berbagai distrik di negara bagian tersebut untuk mengevakuasi orang dan mendirikan kamp pengungsian. Sistem-sistem ini juga diklaim membantu mengurangi dampak korban jiwa.

Menteri Sumber Daya Air Bihar, Sanjay Kumar Jha, saat itu mengatakan pemerintah mengambil langkah-langkah pencegahan untuk meminimalisir kerusakan akibat banjir dengan menggunakan teknologi baru.

Sistem ini mampu memeperingatkan pejabat distrik di Bihar kemungkinan hujan lebat 72 jam sebelumnya, mengutip OpenGov Asia.

Lebih lanjut, Nezar mengatakan dengan data maka prediksi mengenai kemungkinan bencana dapat menyelamatkan banyak nyawa masyarakat.

Menurutnya, salah satu daerah yang bisa menerapkan hal tersebut adalah Jakarta karena rentan banjir di musim hujan. Dengan big data, bisa didapat data geospasial, demografi dan juga solusi integratif yang harus dilakukan hingga bantuan yang harus diberikan.

Sejauh ini, lembaga-lembaga di Indonesia terpantau belum menerapkan teknologi AI untuk peringatan dini bencana.

Metode saintifik konvensional dan pengamatan lewat alat di lapangan masih jadi andalan. Contohnya, stasiun meteorologi untuk pemantauan cuaca, modeling level air laut lewat pemanfaatan alat tide gauge untuk mendeteksi tsunami.

Sementara, program yang sudah ada sejak lama dipangkas. Misalnya, program deteksi tsunami atau Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS), yang mengoperasikan buoy, yang berada di bawah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tak dapat anggaran khusus.

Program mitigasi bencana yang sebelumnya berada di bawah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) itu dihemat dengan alasan efektivitas.

[Gambas:Video CNN]

(Antara/dmi)

Pakar Bongkar Rahasia Cara Bikin Senjata Laser ala Star Wars

Jakarta, CNN Indonesia —

Para peneliti berhasil mengungkap cara membuat senjata laser berkekuatan tinggi seperti di semesta Star Wars.

Karya fiksi George Lucas itu sejak lama menampilkan ragam senjata laser, mulai dari pedang laser alias lightsaber yang digunakan para jedi dan lawannya, para darth; hingga tembakan laser kelas penghancur planet seperti yang dimiliki Death Star. 

Militer di beberapa negara sebetulnya telah menggunakan senjata bertenaga laser, seperti yang dipopulerkan Star Wars. Namun, senjata tersebut jauh lebih lemah dibandingkan yang terlihat di layar kaca dan hanya dapat melumpuhkan target kecil di udara.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cahaya pada senjata saat ini, yang tidak terlihat dengan mata telanjang, berasal dari serat optik mode tunggal yang mentransmisikan satu panjang gelombang cahaya, atau mode, melalui inti serat dan menghasilkan sinar terfokus.

Namun sulit untuk meningkatkan daya karena cahaya terbatas pada area yang kecil.

Serat optik multimode –yang mentransmisikan beberapa mode cahaya– jauh lebih beragam dan dapat meningkatkan kekuatan cahaya inframerah yang dipancarkan antara tiga hingga sembilan kali lipat.

Masalahnya, teknologi ini menghasilkan sinar yang kurang rapi dan tidak fokus, karena terpencar-pencar. Itu berarti, kekuatannya menghilang dengan cepat dalam jarak jauh.

Dalam makalah baru yang diterbitkan pada 19 November di jurnal Nature Communications, para ilmuwan menemukan solusi yang membatasi seberapa banyak cahaya yang tersebar dari serat multimode.

Secara teori, hal ini berarti militer dapat merancang laser yang berkekuatan cukup tinggi untuk membuat kerusakan signifikan dan cukup fokus untuk membentuk sinar yang halus dan sempit. Penelitian ini didanai oleh Angkatan Udara AS.

“Sinar laser berkualitas buruk akan berpencar dengan sangat cepat saat merambat. Oleh karena itu tidak dapat menyalurkan energi dalam jumlah terkonsentrasi ke target,” kata penulis utama Stephen Warren-Smith dan Linh Nguyen, peneliti di Future Industries Institute di Universitas South Australia, mengutip LiveScience.

“Kami memiliki cara untuk mengontrol sifat cahaya dalam serat tersebut sehingga muncul sebagai titik fokus yang dapat dideteksi dan berubah menjadi sinar sempit berkualitas tinggi,” lanjutnya.

Industri pertahanan telah mengembangkan laser tingkat militer selama bertahun-tahun dan berlomba-lomba untuk menerapkannya di dunia nyata.

Lockheed Martin, misalnya, mengumumkan rencananya membuat laser kelas 500 kilowatt yang dapat digunakan untuk sistem senjata energi terarah guna mempertahankan diri dari ancaman.

Tim di balik penelitian baru ini belum mengembangkan prototipe untuk senjata semacam itu.

Namun, laser apa pun yang dibuat dengan menggunakan cetak biru mereka mungkin cukup kuat untuk mengacaukan sistem navigasi musuh atau menyebabkan kerusakan termal yang signifikan pada kendaraan atau mesin.

Teknologi saat ini dapat menyerang sasaran kecil di udara dalam jarak dekat. Namun teknologi baru ini dapat digunakan pada target yang lebih luas.

“Sinar laser difokuskan pada target yang jauh selama beberapa detik, menyebabkan target meleleh atau terbakar. Sinar laser ini mungkin paling efektif untuk target kecil seperti drone dan mortir, namun berpotensi menargetkan sasaran yang lebih besar jika sistem kritis tertentu rusak, seperti sebagai sensor onboard atau elektronik,” tulis para peneliti.

Namun, ini tidak berarti teknologi tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan Death Star dalam waktu dekat. Sebaliknya, kemungkinan besar teknologi tersebut akan digunakan untuk menonaktifkan drone otomatis.

“Menghabiskan amunisi untuk menjatuhkan drone memerlukan biaya yang sangat mahal namun senjata laser menawarkan “peluru” yang hampir tidak terbatas, dengan listrik sebagai satu-satunya sumber energi masukan.” jelas para peneliti.

Selain digunakan dalam persenjataan, para peneliti berpendapat bahwa laser sekuat itu juga dapat digunakan dalam penginderaan jauh. Laser berkekuatan tinggi, misalnya, dapat menentukan kecepatan angin pada jarak yang lebih jauh dibandingkan metode konvensional.

Laser bertenaga tinggi juga penting untuk penelitian deteksi gelombang gravitasi dan peneliti berharap penemuan mereka dapat berperan dalam upaya penelitian di masa depan.

[Gambas:Video CNN]

(rfi/dmi)

Dorong Desa Wisata, BAKTI Kominfo Komitmen Tingkatkan Akses Internet

Jakarta, CNN Indonesia —

Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) berkomitmen untuk meningkatkan akses internet di desa-desa wisata di Indonesia. Hal ini dilakukan untuk mendukung pengembangan pariwisata di daerah tersebut.

Di samping menggenjot infrastruktur, komitmen tersebut  juga diwujudkan dengan penyelenggaraan program Pelatihan Digitalisasi bagi Pelaku Pariwisata di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Pelatihan ini diselenggarakan bekerja sama dengan Atourin, salah satu perusahaan teknologi sektor pariwisata.

Direktur Layanan TI untuk Masyarakat dan Pemerintah BAKTI Kementerian Komunikasi dan Informatika, Bambang Noegroho, mengatakan bahwa program tersebut memiliki berbagai tujuan strategis.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Program ini memiliki berbagai tujuan strategis seperti meningkatkan optimalisasi pemanfaatan infrastruktur TIK BAKTI yang telah dibangun yang sejalan dengan arah sasaran pengembangan infrastruktur TIK BAKTI serta mendorong para pegiat wisata untuk memahami hospitality serta digital branding dan marketing,” ujarnya seperti dikutip dari ANTARA, Minggu (10/12).

Dia melanjutkan, Kabupaten Sumba Timur terpilih karena memiliki potensi wisata alam sangat melimpah, mulai dari wilayah perbukitan, pesisir, padang sabana, air terjun, dan lainnya. Kabupaten ini juga memiliki seni budaya yang beragam serta banyak desa dengan nuansa rumah adat yang masih alami dan menarik.

Sebanyak 30 pegiat pariwisata dari 15 desa wisata mendapatkan pelatihan dan pendampingan selama dua hari beberapa waktu lalu. Desa wisata tersebut adalah Pambotanjara, Tandulajangga, Watuhadang, Mondu, Kaliuda, Lainjanji, Tarimbang, Praimadita, Rindi, Kadumbul, Lambanapu, Malumbi, Matawai, Prailiu, dan Napu.

Sementara itu, Staf Direktorat Layanan TI untuk Masyarakat dan Pemerintah BAKTI Kominfo, Ariella Cindy, menjelaskan BAKTI Kominfo setiap tahun rutin memiliki program untuk meningkatkan akses internet dan kapasitas sumber daya manusia di Sumba Timur.

“Kami berharap dukungan ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh pelaku pariwisata yang ada di Sumba Timur,” ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sumba Timur, Ida Bagus Putu Punia, mengaku senang 14 desa wisata yang telah memiliki Surat Keputusan (SK) di Kabupaten Sumba Timur bisa mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan ini selama dua hari ke depan.

“Ini akan sangat bermanfaat untuk diimplementasikan di desa wisata masing-masing agar dapat meningkatkan kualitas dan daya saing desa,” katanya.

Di sisi lain, Chief Executive Officer (CEO) Atourin, Benarivo Triadi Putra, mengatakan selain pemahaman informasi sesuai modul pelatihan, peserta juga dibekali dengan keahlian teknis tepat guna, seperti fotografi dan hospitality, yang bisa langsung diterapkan oleh mereka.

“Peserta terlihat sangat semangat dan antusias selama pelatihan berlangsung. Atourin juga membantu proses on-boarding desa wisata dan produk paket wisata mereka di platform Atourin,” jelasnya.

Ia menekankan, Atourin juga berkomitmen untuk mendampingi desa wisata peserta setelah pelatihan selesai dengan harapan semua materi dan keahlian yang diberikan selama pelatihan benar bisa terimplementasi dengan baik di desa wisata tersebut.

Dia pun berharap, dengan digitalisasi desa wisata ini, maka terjadi potensi peningkatan kunjungan wisatawan dan pendapatan di desa wisata tersebut.

“Pastinya para peserta pelatihan ini bisa menjadi local champion dalam memajukan desa wisata masing-masing melalui digitalisasi,” kata Benarivo.

(rir)

BAKTI Kominfo-Atourin Dorong Digitalisasi Kampung Wisata di Ternate

Jakarta, CNN Indonesia —

Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menggandeng Atourin, perusahaan teknologi sektor pariwisata, untuk mendorong digitalisasi 15 kampung wisata di Kota Ternate, Maluku Utara.

Direktur Layanan TI untuk Masyarakat dan Pemerintah BAKTI Kominfo, Bambang Noegroho, menyampaikan kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan optimalisasi pemanfaatan infrastruktur TIK BAKTI yang telah dibangun di Ternate.

“Serta mendorong para penggiat wisata untuk memahami hospitality, serta digital branding dan marketing,” ujarnya seperti dikutip dari ANTARA, Minggu (10/12).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan menggandeng Atourin, BAKTI menyelenggarakan program pelatihan digitalisasi bagi pelaku pariwisata di wilayah pembangunan infrastruktur BAKTI. Sebanyak 30 penggiat pariwisata dari 15 kampung wisata mengikuti pelatihan dan pendampingan selama dua hari pada tanggal 14-15 November 2023 di Kota Ternate.

Adapun, 15 kampung wisata tersebut adalah Sulamadaha, Kulaba, Takome, Kastela, Tubo, Gura Bala, Tobololo, Loto, Foramadiahi, Taduma, Rua, Tongole, Togafo, Ngade, dan Moya.

Pelatihan dibuka oleh Staf Direktorat Layanan TI untuk Masyarakat dan Pemerintah Bakti Kominfo, Rama Mulyana, dan Wali Kota Ternate yang diwakili oleh Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Ternate, Anwar Hasjim.

Rama menjelaskan bahwa BAKTI Kominfo setiap tahun rutin memiliki program untuk meningkatkan akses internet dan kapasitas sumber daya manusia di Ternate serta berharap dukungan ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh pelaku pariwisata yang ada di Ternate.

“BAKTI Kominfo setiap tahun rutin memiliki program untuk meningkatkan akses internet dan kapasitas sumber daya manusia di Ternate serta berharap dukungan ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh pelaku pariwisata yang ada di Ternate,” ucap dia.

Di sisi lain, Anwar mengharapkan pelatihan untuk penggiat kampung wisata tersebut bisa membantu mereka untuk melek teknologi serta mampu menggunakannya untuk mempromosikan dan memasarkan produk-produk wisatanya.

“Pemerintah Kota Ternate memberikan apresiasi kepada BAKTI, Atourin, dan seluruh penggiat kampung wisata yang berpartisipasi dalam kegiatan ini,” ucapnya.

Sementara itu, Chief Operating Officer (COO) Atourin, sekaligus project manager dari program tersebut, Reza Permadi, mengatakan selain pemahaman informasi sesuai modul pelatihan, peserta juga dibekali dengan keahlian teknis tepat guna seperti fotografi dan hospitality yang bisa langsung diterapkan oleh mereka.

Ia mengungkapkan mayoritas peserta belum pernah mengikuti pelatihan pariwisata serupa sehingga mereka terlihat antusias dan semangat mengikuti jalannya pelatihan dari awal sampai akhir.

BAKTI secara konsisten mendukung kemajuan ekosistem digital di Indonesia melalui berbagai program strategis sehingga dapat meningkatkan indeks masyarakat digital Indonesia. Diharapkan terjadi pemerataan dan peningkatan indeks masyarakat digital Indonesia di seluruh penjuru negeri.

Pelatihan digitalisasi kampung wisata ini merupakan bagian dari upaya BAKTI untuk meningkatkan indeks masyarakat digital Indonesia. BAKTI berharap kegiatan ini dapat mendorong kemajuan ekosistem digital di Indonesia, khususnya di sektor pariwisata.

Sebagai informasi, pada 2023 program ini diselenggarakan di tiga daerah yang telah terlayani infrastruktur base transceiver station (BTS), artificial intelligence (AI), dan interkoneksi Palapa Ring BAKTI.

Tiga daerah tersebut antara lain, Kabupaten Agam di Sumatera Barat, Kabupaten Sumba Timur di Nusa Tenggara Timur; dan Kota Ternate di Maluku Utara.

Pelatihan edisi ketiga dilaksanakan di Kota Ternate yang identik dengan rempah. Selain itu, Ternate memiliki berbagai potensi pariwisata yang sangat indah dan menarik.

Mulai dari Gunung Gamalama, aneka pantai berpasir hitam dan putih, dunia bawah laut, perkebunan cengkeh, ragam seni dan budaya yang mempesona, berbagai benteng bersejarah, kuliner serta penduduk yang ramah.

(rir)

Google Sikat 17 Pinjol Berbahaya, Ada yang Beroperasi di RI

Jakarta, CNBC Indonesia – Google memutuskan untuk menghapus 17 aplikasi pinjaman online (pinjol) berbahaya dari platform Google Play Store. Seluruh aplikasi itu diketahui menawarkan bunga pinjaman yang tinggi dan resiko pencurian data pribadi.

Mengutip Detikinet, peneliti keamanan siber dari ESET Research mengatakan ada 18 aplikasi pinjol berbahaya yang beredar di Google Play Store. Belasan aplikasi ini sudah diunduh lebih dari 12 juta kali sejak tahun 2020.

ESET tidak menyebutkan nama masing-masing aplikasi pinjol, namun mereka menggolongkan aplikasi nakal ini sebagai ‘SpyLoan’ karena menggunakan teknik spyware. Aplikasi-aplikasi ini biasanya dipromosikan via SMS dan media sosial seperti Twitter/X, Facebook, dan YouTube.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut data ESET, deteksi aplikasi SpyLoan mulai meningkat sepanjang tahun 2023. Korban aplikasi berbahaya ini tersebar di banyak negara, seperti Meksiko, India, Indonesia, Thailand, Nigeria, Filipina, Mesir, Vietnam, Singapura, Kolombia, dan Peru.

Sebagian dari aplikasi pinjol berbahaya ini juga meniru nama dan branding dari penyedia layanan pinjaman dan institusi keuangan yang resmi. Bahkan ada satu penyedia layanan pinjol di Kolombia yang memperingatkan pengguna agar tidak tertipu aplikasi abal-abal yang meniru namanya.

Setelah diinstal, aplikasi SpyLoan langsung meminta pengguna memberikan informasi pribadi seperti alamat, informasi kontak, bukti penghasilan, informasi rekening bank, serta foto kartu identitas bagian depan dan belakang.

Selanjutnya aplikasi itu menyedot data sensitif yang ada di perangkat korban seperti log panggilan, event kalender, informasi perangkat, daftar aplikasi yang diinstal, informasi jaringan Wi-Fi lokal, hingga metadata foto. Selain itu, mereka juga mengincar daftar kontak, data lokasi pengguna, dan SMS.

“Setelah itu, operator aplikasi pinjol berbahaya akan memeras dan mengancam pengguna untuk segera membayar pinjaman, bahkan ketika pengguna tidak meminjam uang atau pinjamannya ditolak. Bahkan ada attacker yang mengancam akan membunuh keluarga pengguna,” seperti dikutip dari Gizmodo, Sabtu (9/12/2023).

ESET langsung melaporkan temuannya ke Google. Saat ini, 17 aplikasi pinjaman online berbahaya sudah dihapus dari Play Store. Satu lagi bisa lolos karena sudah mengubah izin akses dan fungsinya sehingga tidak terdeteksi sebagai aplikasi SpyLoan.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Daftar Gaji Kerja di Google Bocor, Paling Kecil Ratusan Juta

(haa/haa)

AI Diduga Rasis, Gambar Warga Kulit Putih Lebih Manusiawi

Jakarta, CNN Indonesia —

Studi terbaru yang dipimpin para ahli di Australian National University (ANU) menemukan wajah orang berkulit putih yang dihasilkan teknologi kecerdasan buatan (AI) terlihat lebih riil ketimbang orang kulit berwarna.

Amy Dawel, salah satu peneliti studi tersebut menjelaskan perbedaan ini disebabkan algoritma AI dilatih secara tidak proporsional pada wajah-wajah berkulit putih.

“Jika wajah AI berkulit putih secara konsisten dianggap lebih realistis, teknologi ini dapat memiliki implikasi serius bagi orang kulit berwarna dengan memperkuat bias rasial secara online,” kata Dawel, mengutip Science Daily, Kamis (7/12).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Masalah ini sudah terlihat dalam teknologi AI saat ini yang digunakan untuk membuat foto wajah yang terlihat profesional. Ketika digunakan untuk orang kulit berwarna, AI mengubah warna kulit dan mata mereka menjadi warna kulit orang kulit putih.”

Para peneliti menemukan salah satu masalah dengan ‘hiper-realisme’ AI adalah bahwa orang sering tidak menyadari bahwa mereka sedang dibodohi.

“Yang memprihatinkan, orang-orang yang paling sering berpikir bahwa wajah AI itu nyata adalah mereka yang paling percaya diri bahwa penilaian mereka benar,” kata Elizabeth Miller, penulis lainnya dalam studi tersebut.

“Ini berarti orang-orang yang salah mengira peniru AI sebagai orang sungguhan tidak tahu bahwa mereka sedang ditipu.”

Para peneliti juga dapat menemukan mengapa wajah AI menipu orang.

“Ternyata masih ada perbedaan fisik antara wajah AI dan wajah manusia, tetapi orang cenderung salah mengartikannya. Sebagai contoh, wajah AI yang berwarna kulit putih cenderung lebih proporsional dan orang-orang salah mengartikannya sebagai tanda kemanusiaan,” kata Dawel.

“Namun, kita tidak bisa mengandalkan isyarat fisik ini untuk waktu yang lama. Teknologi AI berkembang sangat cepat sehingga perbedaan antara AI dan wajah manusia mungkin akan segera hilang.”

Para peneliti berpendapat bahwa tren ini dapat berimplikasi serius terhadap penyebaran informasi yang salah dan pencurian identitas, dan tindakan harus dilakukan.

“Teknologi AI tidak dapat dipisahkan sehingga hanya perusahaan teknologi yang tahu apa yang terjadi di balik layar. Perlu ada transparansi yang lebih besar di sekitar AI sehingga para peneliti dan masyarakat sipil dapat mengidentifikasi masalah sebelum menjadi masalah besar,” kata Dawel.

Meningkatkan kesadaran masyarakat juga dapat memainkan peran penting dalam mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh teknologi ini, menurut para peneliti.

“Mengingat bahwa manusia tidak lagi dapat mendeteksi wajah AI, masyarakat membutuhkan alat yang dapat secara akurat mengidentifikasi penipu AI,” ujar Dawel.

“Mengedukasi masyarakat tentang realisme yang dirasakan dari wajah AI dapat membantu membuat masyarakat lebih skeptis terhadap gambar yang mereka lihat secara online.”

(tim/dmi)

Simpanse Curi Makanan Elang, Ahli Sebut Gambaran Masa Lalu Manusia

Jakarta, CNN Indonesia —

Seorang ilmuwan berhasil menangkap momen langka ketika seekor simpanse jantan mencuri santapan elang di Lembah Issa, Tanzania Barat.

Simpanse (Pan Troglodytes) merupakan hewan vegetarian namun mereka juga memakan daging atau produk hewani lainnya. Pada beberapa kesempatan, Simpanse ini juga memakan bangkai hewan.

Studi baru yang diterbitkan pada 31 Oktober di jurnal Primates, menyoroti kemampuan simpanse untuk menghadapi predator lain dan mengambil makanan mereka dalam perilaku memulung sembarangan.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penulis utama Sam Baker, Koordinator Penelitian Proyek Konservasi Primata Bugoma di Uganda, sedang mengikuti simpanse bersama Kidosi Raulent Mfaume, asisten lapangan setempat, ketika mereka melihat Imba, simpanse jantan alfa, berlari ke lapangan rumput.

Seekor elang bermahkota (Stephanoaetus coronatus) kemudian langsung terbang. Beberapa saat kemudian, Imba muncul bersama seekor rusa muda yang tidak bergerak yang menurut penulis penelitian baru saja ditangkap oleh elang tersebut.

“Seperti kebanyakan pengalaman baru, terutama pengalaman langka, momen ini terasa nyata dan menggembirakan,” kata Baker, mengutip LiveScience.

“Konfrontasi ini jarang terjadi dalam literatur, sebagian besar disimpulkan, sehingga pengamatan peristiwa yang hampir lengkap adalah hal yang unik.” tambahnya.

Simpanse lain mencoba mencuri bangkai tersebut dan memohon kepada Imba untuk membagikannya selama sekitar satu jam. Dia memberikan sebagian kepada simpanse betina dan memakan sebagian besar dari mangsa itu sendiri.

Setelah membuang bangkainya, simpanse lain kemudian pergi dan mengambil sendiri sisa-sisanya. Pada akhirnya, hanya tengkorak lah yang tersisa.

Dokumentasi ini merupakan contoh kedua dari sifat ‘memulung secara konfrontatif’ (confrontational scavenging) simpanse dengan jalan mencuri makanan dari hewan lain.

Sebuah studi 2019 yang diterbitkan dalam Journal of Human Evolution menemukan bahwa simpanse juga mencuri dari macan tutul (Panthera pardus). Padahal, simpanse merupakan salah satu mangsa macan tutul.

Menurut Baker, simpanse merupakan salah satu kerabat terdekat kita yang masih hidup. Mereka, katanya, memberikan gambaran akan kehidupan nenek moyang kita yang terakhir yang hidup sekitar 6 hingga 8 juta tahun lalu dan terjadinya evolusi perilaku manusia.

Mengais-ais makanan bisa menyebabkan perilaku sosial yang semakin kompleks pada manusia purba. Hal ini, kata Baker, “seperti batu loncatan evolusioner, pasif ke memulung secara konfrontatif, menjadi perburuan kooperatif.”

Mfaume, asisten lapangan yang juga menyaksikan kejadian tersebut, namun tidak disebutkan namanya dalam penelitian tersebut, meninggal karena sakit pada tahun 2022 pada usia 29 tahun.

Baker mengatakan dia ingin mendedikasikan penelitiannya untuk mengenang Mfaume. “Dia adalah sosok yang cantik dan memiliki jiwa yang tak terhapuskan, penuh gairah terhadap hutan dan simpanse di sana,” tambah Baker.

[Gambas:Video CNN]

(rfi/dmi)

UU ITE Terbaru Disahkan, Akun Media Sosial Bisa Hilang Sementara

Jakarta, CNN Indonesia —

Perubahan kedua Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) membuka peluang akun media sosial (medsos) ditutup jika dianggap melanggar.

UU ITE terbaru itu disahkan dalam Rapat Paripurna DPR, di Jakarta, Selasa (5/12).

Beberapa aturan baru muncul, termasuk ketentuan soal kewajiban Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE), termasuk perusahaan pemilik media sosial seperti Meta, Twitter atau X, hingga perusahaan teknologi Google, wajib menuruti kemauan pemerintah.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Penyelenggara Sistem Elektronik wajib melaksanakan perintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2),” menurut pasal 40 A ayat (3).

Jika PSE tak manut, UU ITE menyiapkan sanksi berjenjang, yakni sanksi administratif, teguran tertulis, denda administratif, penghentian sementara, hingga pemutusan akses.

Apa saja yang bisa diperintahkan kepada PSE?

UU ITE terbaru ini memasukkan aturan baru soal kewenangan penyidik menutup akun medsos dengan cara memerintahkan PSE.

Dalam Pasal 43 huruf (i) menyebut Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) bisa “memerintahkan kepada Penyelenggara Sistem Elektronik untuk melakukan pemutusan akses secara sementara terhadap akun media sosial, rekening bank, uang elektronik, dan atau aset digital.”

PPNS yang mana?

Pasal 43 ayat (1) menyebut PPNS itu ada di “lingkungan Pemerintah yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronik diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang tentang Hukum Acara Pidana untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronik.”

Saat masih berupa draf, pasal penutupan akun medsos ini mendapat kritik keras dari Koalisi Serius untuk Revisi UU ITE.

“Dengan ketentuan ini, negara bisa dengan mudah memutus akses terhadap informasi yang dianggap berbahaya,” menurut Koalisi.

“Ini diperkuat pemberian kewenangan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) memutus sementara akun media sosial, rekening, uang elektronik, dan aset digital dalam Pasal 43 ayat 5 huruf L.”

Koalisi, yang merupakan gabungan sejumlah LSM, termasuk Institute for Criminal Justice Reform (ICJR), SAFEnet, LBH Jakarta, ELSAM, hingga Remotivi, ini menyebut Pemerintah tidak belajar dari kasus pemutusan akses internet di Papua pada 2019 yang akhirnya dinyatakan melanggar hukum oleh Mahkamah Agung.

“Jika disahkan, revisi kedua UU ITE ini justru akan menjadi landasan hukum bagi kesewenang-wenangan negara alih-alih melindungi hak asasi manusia,” menurut Koalisi.

Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika Nezar Patria mengatakan isu keluhan dijerat UU ITE tidak akan terjadi lagi usai revisi kedua ini.

“Di aturan itu hak-hak itu kelihatannya dilindungi. Jadi nanti selama bisa dibuktikan dan itu untuk kepentingan publik yang luas, dia terbebaskan dari jeratan itu,” kata dia, di Jakarta, Selasa (5/12).

“Kita harapkan penggunaannya lebih tepat,” imbuh Nezar.

Sebelum ada UU ITE terbaru, aturan pemblokiran akun media sosial memang memungkinkan dengan jalan Pemerintah mengajukan permintaan penutupan akun.

Namun, platform terkait, atau PSE, masih bisa menimbang kesesuaiannya dengan aturan internal atau standar komunitas masing-masing.

[Gambas:Video CNN]

(tim/arh)

KLHK Bongkar Penyebab Banjir Bandang di Humbahas Sumut

Jakarta, CNN Indonesia —

Banjir bandang di Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatra Utara, yang merupakan bagian Daerah Aliran Sungai (DAS) Asahan Toba, terkait dengan pendangkalan sungai.

Sebelumnya, Humbahas diterjang banjir bandang dan longsor pada Jumat (1/12) sekitar pukul 21.00 WIB. Titik bencananya ada di Sub Sub-DAS Nambunga dengan luas Daerah Tangkapan Air (DTA) adalah 478,28 hektare.

Per Senin (4/12), korban meninggal mencapai satu orang dan 10 lainnya masih hilang.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Area terdampak banjir merupakan daerah perladangan, pertanian, dan permukiman yang berada bagian hilir sungai. Secara administratif, lokasi itu merupakan Desa Simangulampe, Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbahas.

“Jadi berdasarkan analisis yang kami lakukan, penyebab banjir adanya curah hujan yang tinggi, sementara kapasitas pengaliran sungai lebih kecil dari debit banjir. Pendangkalan pada alur sungai semakin menurunkan kapasitas pengaliran, sehingga luapan meningkat,” kata Direktur Perencanaan dan Pengawasan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan M. Saparis Soedarjanto, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (6/12).

Menurutnya, curah hujan yang tinggi pada hulu DTA saat itu mencapai 41 mm per hari, yang menghasilkan debit aliran 20,3 m³ per detik. Jumlah ini melebihi kapasitas pengaliran normal di angka 2,8 m³ per detik.

Pada saat bencana terjadi, kondisi diperparah dengan aliran Sungai Sibuni-buni yang meluap dengan debit limpasan melebihi kapasitas pengaliran. Aliran air membawa material berupa gravel (bongkahan batuan).

Batuan induk daerah tersebut berupa batu lempung yang tingkat konsolidasi materialnya rendah, sehingga mudah hancur dan bersifat lepas-lepas dan selanjutnya mengalami longsoran yang dipicu oleh intensitas hujan yang tinggi.

Dari hasil pengamatan, katanya, material yang terbawa banjir merupakan hasil longsoran tipe ‘rock fall’ atau runtuhan. Proses longsor tipe rock fall ini juga menghasilkan material endapan yang didominasi oleh gravel.

Hal ini sejalan dengan konfigurasi topografis DTA banjir dan jenis batuannya yang terdiri dari batu lempung yang mudah hancur dan bersifat lepas-lepas.

Area ini merupakan batuan sedimen hasil pengendapan berbeda periode. Selain itu, akibat proses litostatis, tekanan dari lapisan atasnya berupa endapan baru, misal abu volkan dari letusan Toba sehingga bentuknya pipih-pipih dan mudah hancur.

KLHK mengungkap, berdasarkan analisis peta tutupan lahan, DTA banjir terdiri dari pertanian lahan kering seluas 320,64 hektare dan semak/belukar 157,64 ha.

Berdasarkan tingkat kekritisan lahannya, area bencana berada dalam kondisi kritis seluas 151,34 ha, agak kritis 133,96 ha, dan potensial kritis 192,99 ha.

Soal solusi yang perlu dilakukan ke depan, KLHK mengungkap beberapa hal.

Di antaranya, pembuatan bangunan konservasi tanah dan air, pelebaran dan pengerukan alur sungai, rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) pada lahan kritis di bagian hulunya.

Selain itu, sosialisasi pemahaman Konservasi Tanah dan RHL serta tanggap bencana pada masyarakat.

[Gambas:Video CNN]

(tim/arh)