Ngeri Plastik Mikro di Air Minum, Masuk Jantung hingga Otak

Jakarta, CNBC Indonesia – Para ilmuwan yang menyelidiki dampak mikroplastik terhadap kesehatan menemukan beberapa hasil awal yang bikin ngeri dalam percobaan yang dilakukan pada tikus.

Tikus tua dan muda diuji dengan meminum air dengan kandungan plastik mikroskopis yang tersuspensi selama tiga minggu. Para peneliti di Universitas Rhodes Island menemukan jejak polutan telah terakumulasi di setiap organ tubuh mamalia kecil tersebut, bahkan di otak.

Kehadiran mikroplastik ini juga dibarengi dengan perubahan perilaku seperti demensia pada manusia, serta perubahan penanda imun di hati dan otak.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO RESUME CONTENT

“Bagi kami, ini sangat mengejutkan. Ini bukan mikroplastik dosis tinggi.┬áNamun hanya dalam waktu singkat, kami melihat perubahannya,” jelas ahli saraf Jaime Ross, dikutip dari Science Alert, Selasa (12/9/2023).

“Tidak ada yang benar-benar memahami siklus hidup mikroplastik ini di dalam tubuh, jadi salah satu hal yang ingin kami jawab adalah pertanyaan tentang apa yang terjadi seiring bertambahnya usia,”

“Apakah Anda lebih rentan terhadap peradangan sistemik dari mikroplastik ini seiring bertambahnya usia? menghilangkannya dengan mudah? Apakah sel-sel Anda memberikan respons yang berbeda terhadap racun-racun ini?”

Hasilnya mungkin tidak dapat diterapkan secara langsung pada manusia, tetapi penelitian yang melibatkan model hewan seperti ini adalah langkah awal yang penting dalam penelitian klinis.

Baru-baru ini, para ilmuwan menemukan mikroplastik bersembunyi di usus manusia, beredar di aliran darah, berkumpul di paru-paru, dan merembes ke plasenta.

Pada tahun 2021, para ahli toksikologi memperingatkan bahwa penelitian di masa depan perlu segera mengungkap pengaruh polutan ini terhadap kesehatan manusia, terutama karena paparannya kini hampir mustahil untuk dihindari.

Beberapa tikus juga diberi air minum biasa sebagai kontrol.

Selama uji coba tiga minggu, perilaku tikus dinilai secara teratur selama uji lapangan terbuka yang mendorong perilaku eksplorasi. Mereka juga melakukan tes preferensi terang-gelap, yang didasarkan pada keengganan alami hewan pengerat terhadap area yang terang benderang.

Dibandingkan dengan kelompok yang dikontrol, tikus yang meminum air yang terkontaminasi mikroplastik selama tiga minggu menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan. Perubahan terjadi terlihat terutama pada tikus yang lebih tua.

Pada akhir tiga minggu, partikel mikroplastik berpendar merah ditemukan di setiap jenis jaringan yang diperiksa tim seperti otak, hati, ginjal, saluran pencernaan, jantung, limpa, dan paru-paru. Plastik juga ada di kotoran dan urin tikus.

Fakta bahwa polutan terdeteksi di luar sistem pencernaan menunjukkan bahwa polutan tersebut mengalami sirkulasi sistemik.

Kehadiran mereka di otak sangat memprihatinkan. Hal ini menunjukkan bahwa polutan yang berpotensi beracun ini dapat melewati penghalang kekebalan yang memisahkan sistem saraf pusat dari aliran darah tubuh lainnya, sehingga mungkin menyebabkan masalah neurokognitif.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Fenomena Ular Raksasa Tertangkap Melilit Permukaan Matahari

(dem)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *