Investor Dipandang Optimis Terhadap Sektor Kesehatan Digital

Jakarta, CNBC Indonesia РPerekonomian Indonesia menghadapi berbagai tantangan akibat kondisi global, mulai dari ketegangan geopolitik, hingga ancaman krisis pangan dan energi. Tekanan ini pun membuat ekonomi Tanah Air menjadi kurang bergairah dan tumbuh di bawah ekspektasi pada kuartal III-2023 sebesar 4,94% secara year on year (yoy). Pertumbuhan tersebut adalah yang terendah sejak kuartal III-2021 atau delapan kuartal terakhir.

Tekanan terhadap makroekonomi pun disebut akan berdampak untuk berbagai industri, mulai dari keuangan, manufaktur, hingga teknologi. Saat ini saja, sektor teknologi masih banyak berbenah untuk mencapai sebuah titik keseimbangan baru, termasuk sektor teknologi kesehatan (healthtech).

Padahal ketika terjadi krisis kesehatan, sektor teknologi kesehatan (healthtech) memiliki peran vital dalam membantu mengatasi krisis tersebut. Bahkan secara nasional, pemerintah mendorong sektor teknologi kesehatan menjadi bagian dari transformasi kesehatan digital. Hal ini terjadi seiring dengan kontribusi pelaku healthtech dalam menangani bersama-sama pandemi COVID-19. Sebagai contoh, Halodoc, SehatQ, dan Vascular Indonesia menjadi healthtech yang bekerja sama dengan pemerintah untuk membantu program isolasi mandiri COVID-19 dengan memberikan telekonsultasi gratis bagi pasien.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO RESUME CONTENT

Pandemi membantu terjadinya akselerasi literasi kesehatan dan literasi digital secara signifikan. Dimana masyarakat beradaptasi dengan teknologi lebih cepat. Dan berbicara mengenai akses kesehatan semasa pandemi dimana masyarakat banyak terbantu dengan adanya platform kesehatan digital menjadikan hal tersebut sebagai alternatif akses pelayanan kesehatan selain fasilitas kesehatan yang sudah ada sebelumnya. Masyarakat diuntungkan dengan adanya alternatif layanan kesehatan saat ini.

Kini, setelah menjadi endemi dimana semua pihak berbenah demi masa depan yang lebih baik, pengamat teknologi sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi menyebutkan industri kesehatan digital dihadapkan pada tantangan baru dan dibutuhkan strategi yang mumpuni dan dukungan konkret dari berbagai pihak, termasuk pemerintah.

Kilas balik, Heru menjelaskan bahwa pada waktu pandemi, masyarakat sulit mengakses fasilitas kesehatan seperti rumah sakit karena takut terpapar virus. Sehingga konsultasi jarak jauh menjadi salah satu alternatif. “Kita tidak bisa, agak sulit, ke rumah sakit segala macam, tapi tetap perlu konsultasi dengan dokter. Kita perlu informasi tentang vaksin segala macam. Banyak platform digital yang memang mencuri perhatian kita dan berhasil pada saat itu. Tapi memang pandemi sudah menjadi endemi,” kata Heru kepada CNBC Indonesia beberapa waktu lalu.

Heru menambahkan, ke depannya sektor kesehatan dengan memanfaatkan teknologi digital akan terus bertumbuh seiring dengan tuntutan zaman yang serba cepat. Perluasan akses kesehatan bagi seluruh masyarakat menjadi poin penting yang dapat diakses kapan dan dimana saja.

Heru juga menegaskan diperlukan strategi tertentu agar masyarakat tetap memanfaatkan layanan tersebut. Terlebih lagi, layanan kesehatan digital kini bisa jadi alternatif bagi masyarakat untuk melakukan screeningatau konsultasi keluhan kesehatan tahap awal yang dapat diselesaikan dari jarak jauh.

“Nah, cuma sekarang tergantung bagaimana dari platformnya itu sendiri, dari yang memberikan layanan kesehatan digital itu sendiri untuk tetap survive¬†nih. Ada strategi-strategi yang harus tetap dilakukan gitu ya,” papar dia.

Pemanfaatan layanan kesehatan digital di masa depan tidak hanya terbatas pada telemedisin, namun lebih luas dari itu, dapat merambah sektor diagnostik hingga bioteknologi yang akan semakin memudahkan masyarakat.

Di sisi lain, Chief Growth Officer Think Policy & Tim Think Policy Advisory, Florida Andriana turut memberikan penjelasan mengenai industri kesehatan digital telah mengalami pertumbuhan signifikan, terutama selama pandemi COVID-19.

Hal ini terlihat dari penggunaan layanan telemedisin yang mengalami peningkatan. “Kendati penggunaan telemedisin menurun setelah pandemi, angkanya tetap jauh lebih tinggi daripada sebelum pandemi. Sebagai contoh, di Amerika Serikat, penggunaan telemedisin meningkat hingga 78 kali lipat selama pandemi, dan saat ini masih stabil di angka 38 kali lipat dari sebelumnya,” papar dia.

Selain itu, ia juga melihat bahwa segi pendanaan pada industri kesehatan digital khususnya bagi startup healthtech, iklim investor akan tetap cerah dalam jangka panjang. Ketidakpastian ekonomi global pun mendorong investor untuk lebih berhati-hati namun tetap optimis. “Ada appetite bagi investor untuk meningkatkan investasi mereka di sektor ini sebagai respons terhadap krisis kesehatan global. Industri kesehatan digital harus mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan regulasi,” ungkap dia kepada CNBC Indonesia.

Sebagai bukti nyata, pada tahun ini salah satu pelaku startup layanan kesehatan digital, Halodoc, menerima pendanaan seri D, dengan total dana investasi sebesar US$100 juta atau sebesar Rp1,5 triliun yang dipimpin oleh PT Astra International Tbk (ASII), serta didukung oleh perusahaan ventura Openspace serta Novo Holdings.

Melansir dari Statista.com, tercatat bahwa pada tahun ini market industri kesehatan digital di Asia Tenggara diproyeksikan mencapai USD 5,37 miliar dan akan mengalami pertumbuhan tahunan (CAGR 2023-2028) sebesar 9,46% atau diproyeksikan mencapai USD 8,44 miliar pada tahun 2028.

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga menyatakan kepercayaan bahwa sektor kesehatan digital Tanah Air berpotensi melahirkan startup unicorn, khususnya dari jasa layanan kesehatan. “Industri ini (kesehatan) dalam hierarki investasi yang tinggi. Potensi upsize-nya besar dibandingkan negara lainnya,” kata Budi beberapa waktu lalu.

Terlebih lagi, menuju Indonesia Sehat 2045, Menkes RI juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam transformasi kesehatan digital. Kemajuan dan kualitas kesehatan di Indonesia menjadi tanggung jawab seluruh pihak, sehingga kolaborasi aktif antara pemerintah dan pelaku swasta sangat dibutuhkan agar transformasi ini dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Budi juga memaparkan rata-rata usia hidup di Indonesia hingga 72 tahun, dan untuk mencapai usia tersebut ada ‘belanja’ kesehatan yang dikeluarkan. Adapun arah pembangunan kesehatan Indonesia saat ini dan ke depan akan fokus pada pencegahan bukan hanya kuratif (menyembuhkan orang yang terlanjur jatuh sakit). Pencegahan ini melalui upaya promotif preventif, sehingga dapat mewujudkan penduduk negara dengan kualitas kesehatan yang baik. Hal ini pun bisa dimanfaatkan para startupuntuk menunjang kehidupan masyarakat dengan memberikan layanan dan solusi efektif dalam menjaga kesehatan serta guna mencapai angka harapan hidup tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Ekspansi, Telemedicine Siap Kerjasama Dengan BPJS Kesehatan

(dpu/dpu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *